HNB, BATAM,—Institut Teknologi Batam (ITEBA) bersama Yayasan Vitka akan mendukung program pemerintah dalam mewujudkan revolusi industry 4.0 di wilayah Batam dan Indonesia pada umumnya.

“Kami memang mempersiapkan generasi muda Batam dalam menyonsong revolusi industri 4.0 itu. Banyak hal, yang dapat kami lakukan menjadikan itu semua  kenyataannya,” kata rektor Institut Teknologi Batam (ITEBA) Sukrisno Mardyanto kepada wartawan, pada acara sidang senat terbuka.

Menurut dia, salah satu langkah yang layak dan perlu dilakukan untuk mendukung program pemerintah dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dalam bidang sains, teknik, dan desain sesuai dengan kebutuhan Negara Republik Indonesia dan dunia Internasional.

Peningkatan kualitas pendidikan ini dapat dilakukan dengan mendirikan perguruan tinggi baru berbasis sains, teknologi, engineering dan matematika (STEM),dan seni. Itu lah gunanya makanya ITEBA melakukan berbagai kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait dengan sains.

“Kami berusaha untuk menjadi salah satu perguruan tinggi yang bekerjasama dengan Apple Foundation. Salah satu contohnya dengan kelas jangka pendek (1 bulan) yang dirancang dengan metode challenge-based learning untuk memberikan kesempatan kepada calon World-Class Developers untuk mendalami Framework Apple untuk merancang prototipe aplikasi ekosistem apple,” katanya.

Ini sebagai salah satu persiapan para calon pemprograman kelas dunia. Sedangkan kerjasama dengan industri di Batam, ITEBA  telah bekerjasama dengan PT LABTECH dan Kawasan industri lainnya yang terkait dengan itu. Sedangkan kerjasama dengan Nongsa Digital Park (NDP), lanjutnya, merupakan kerjasama jangka panjang pihaknya. Dimana nantinya, kata dia, bentuk kerjasama dengan industry di Batam itu  adalah mahasiswa yang praktik dapat melakukan praktik kerjasama.

Tidak itu saja, kampus ITEBA dipersiapkan sebagai salah satu program yang saat ini sedang dikembangkan yaitu eco campus atau green campus. Program ini ditujukan kepada perguruan tinggi di Indonesia dan sifatnya hanya sukarela, tidak ada paksaan dari pemerintah. Namun himbauan pemerintah itu sudah diterapkan.

Dengan begitu diharapkan munculnya kesadaran dan kepedulian segenap warga kampus untuk menjalankan program ini. Kampus sebagai kumpulan kaum intelektual sudah seharusnya menjadi contoh atau panutan kepada institusi atau masyarakat lain akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Sementara itu, Pembina sekaligus owner dari Yayasan Vitka Asman Abnur mengatakan Revolusi Industri ke-1 pada Abad ke-18 yang diawali dengan mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara merubah peradaban ciri khas Society 2.0 dan memicu Society 3.0. Society 3.0 melalui Revolusi Industri menjadikan, masyarakat mempromosikan industrialisasi sehingga, terjadi urbanisasi besar-besaran dari desa yang merupakan basis pertanian menuju kota-kota pusat industri.

“Itulah kami yakin. Untuk menjadikan Batam sebagai basis era revolusi baru. Karena, Batam yang merupakan destinasi wisata sekaligus industri keduanya merupakan rangkaian dari society 4.0, untuk menuju Society 5.0,” katanya.

Dia menjelaskan dengan lahirnya generasi baru seperti Society 5.0 merupakan hal  baru bagi masyarakat. Sebab, Revolusi industri ke-3 ini kemudian melahirkan Society 4.0 di mana kegiatan bermasyarakat mulai menggunakan teknologi informasi sebagai nilai tambah untuk menghubungkan aset tidak berwujud dan menggabungkannya untuk membentuk jaringan informasi.

“Dimana-mana orang menggunakan aplikasi dari handphone hanya untuk, membooking tiket, membayar tagihan, dan lain sebagainya itu adalah bentuk dari terwujudnya Society 4.0. Apakah kita mau ketinggalan, sebab mau tidak mau zaman akan terus berputar,” ujarnya.

Sehingga di era Revolusi Industri ke-4 terjadi fusi berbagai kemajuan teknologi yang memiliki inovasi yang bergerak cepat dan semua serba terkoneksi. Ini eranya IoT (internet of things), bahkan internet of everything yang ditandai dengan adanya kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence), self-driving car, big data, 3D printing, augmented reality, autonomous robot dan teknologi pintar lainnya.

Karena efeknya yang mendalam terhadap dunia industri khususnya penerapan komputer digital pada lini produksi, maka pada tahun 2014 Jerman memperkenalkan konsep Industry 4.0. Asal mula Industry 4.0 terletak pada strategi teknologi tinggi Pemerintah Jerman yang memiliki salah satu prioritas di bidang ekonomi digital dan masyarakat. Bidang ini menjadikan digitalisasi Industri Jerman sebagai topik yang sangat penting dan menonjol dan akhirnya menghasilkan istilah Industry 4.0.

Pada Industry 4.0, tidak hanya mesin tetapi hampir semua benda dilengkapi dengan sensor yang menghasilkan informasi tentang status atau lokasi mereka. Ini berarti bahwa ada lebih banyak informasi yang tersedia daripada sebelumnya. Karena antarmuka (interface) belum didefinisikan dengan jelas, maka jumlah informasi bertambah dan menjadi tidak mungkin untuk diproses oleh manusia. Di sinilah kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) masuk. Karena daya komputasi dua kali lipat dalam waktu kurang dari setiap dua tahun, maka kekuatan AI meningkat dengan sangat cepat. Ini membuka kemungkinan baru, tetapi juga bahaya baru, katanya.