┬áHotnewsBatam.com, Batam : Berdirinya kos-kosan yang terbuat dari kontainer di Marina Park – Lubuk Baja membuat warga setempat resah. Kontainer yang dijadikan kos-kosan ini berada di lahan blok S nomor 1, Marina Park.

Meskipun bangunan tersebut telah diberi surat peringatan oleh pihak Kecamatan dan BPM-PTSP, pembangunan kos-kosan kontainer ini tetap berjalan.

Hasil pantauan di lokasi perumahan tersebut berindikasi bahwa hampir semua warga Marina Park mengeluhkan keberadaan bangunan tersebut. Selain pondasi bangunan yang terlihat tidak kokoh atau dibuat seadanya juga membuat warga khawatir jika kosan roboh pada suatu saat nanti.

Menurut Master Siregar ketua RT II RW IV Kelurahan Batu Selicin, sejak awal pembangunan bangunan tersebut sudah dikeluhkan warga sekitar. Warga menilai bahwa konstruksi bangunan tidak kokoh dan aman.”Hampir semua warga mengeluhkan tentang bangunan ini, tetapi proses pembangunan tetap saja dilakukan,” ujarnya, Senin (9/10) siang.

Selain itu, sambung Master, warga juga takut kalau bangunan itu roboh saat angin kencang, karena tingginya bangunan serta pondasi yang tidak kuat. “Pokoknya kami menolak pembangunan rumah kontainer itu,” katanya.

Lurah Batu Selicin Iskandar saat ditemui di Kantor Camat Lubuk Baja mengatakan bahwa keluhan warga Perumahan Marina Park sudah lama ia dengarkan. Usai mendengar keluhan warga, ia pun mendatangi lokasi pembangunan setelah berkoordinasi dengan BPM-PTSP dan Camat untuk menghentikan pembangunan kos-kosan tersebut.

“Pemilik bangunan sempat kita berikan surat peringatan pertama, tetapi pembangunan tetap berlangsung,” ujarnya. Saat pemberian surat peringatan itu, sambung Iskandar, pemilik bangunan atas nama Asing memperlihatkan surat izin membangun bangunan (IMB) dan surat izin tersebut adalah izin pembangunan rumah huni empat kamar.

Sementara berdasarkan pemeriksaan di lokasi bangunan, didalamnya berisi 28 kamar. “Rencananya bangunan kontainer yang dijadikan kosan ini sudah menyalahi aturan dan tidak sesuai dengan izin yang ada,” kata Iskandar. (Max/Din/HNB1)