HotNewsBatam.com, Korea : Korea Utara mungkin merupakan sebuah negara yang tertutup, namun bukan rahasia lagi bahwa negara ini bisa menjadi ancaman yang sangat serius di planet ini, dengan beberapa undang-undang paling kontroversial dan menindas. negara yang dikendalikan oleh propaganda pemerintah dan warganegara nya tidak diberikan akses atau pengetahuan tentang dunia luar. Rakyat Korea Utara lahir dan dibesarkan dengan asumsi bahwa mereka tinggal di negara yang paling istimewa dan termulia di dunia ini.

Masyarakat Korea Utara sangat Totalitarian (sistem totalitarian adalah bentuk pemerintahan dari suatu negara yang bukan hanya selalu berusaha menguasai segala aspek ekonomi dan politik masyarakat, tetapi juga selalu berusaha menentukan nilai-nilai ‘baik’ dan ‘buruk’ dari prilaku, kepercayaan dan paham dari masyarakat) ini menjunjung tinggi pemimpin masa lalu mereka dengan penghormatan sedemikian rupa sehingga banyak warganya telah dihukum berat karena gagal menunjukkan “penghormatan yang tepat” di hari hari penting dalam kalender kebesaran Korea Utara. Beredar cerita di media media dunia tentang undang-undang yang tidak masuk akal ini terungkap setelah kematian Kim Jong Il pada tahun 2011 lalu, ketika diungkap bahwa “pelayat yang tidak tulus” dan warga yang tidak berpartisipasi dalam pertemuan terorganisir akan dikirim ke kamp kerja paksa sehingga enam bulan – bergabung dengan 200.000 warga Korea Utara yang diperkirakan ditahan di dalamnya.

Sehubungan dengan ini, tidak mengherankan jika banyak orang Korea Utara telah mengambil langkah berani untuk melepaskan diri dari kediktatoran pemerintah yang tiada hentinya untuk mencari kehidupan yang lebih baik di seberang perbatasan. Dengan hati yang berat, banyak pembelot yang berhasil menempa kehidupan baru terpisahkan dari keluarga mereka selama bertahun-tahun pada satu waktu dan sering mendapat permusuhan dan pelecehan dalam usaha mereka untuk mencari hiburan di seberang perbatasan.

Kisah kisah selanjutnya mungkin sulit untuk dicerna, apalagi membayangkan nya. Berikut adalah beberapa cerita yang benar-benar mengejutkan dan sangat tidak disangka dari beberapa orang pembelot Korea Utara.

Ji-hyun Park
Perdagangan manusia, kekerasan, pelacuran – yang dialami Ji-hyun Park sewaktu dia melarikan diri ke China untuk sebuah kehidupan baru yang lebih layak. Park memulai pelariannya pada tahun 1998 setelah saudaranya dicari oleh polisi militer Korea Utara. Dia meninggalkan ayahnya yang sekarat untuk menyeberangi Sungai Tumen ke China. Begitu melintasi perbatasan, Park dijual sebagai budak kepada seorang pria China dan selama enam tahun mengalami pelecehan seksual dengan kondisi kehidupan yang buruk. Selama waktu kejadian itu dia mengalami kehamilan.

Oleh karena memasuki wilayah Negeri China secara ilegal akhirnya dia tertangkap oleh pemerintah China dan dikirim ke kamp kerja paksa Korea Utara. Pada tahun 2005 Park pertama kali dipertemukan kembali dengan anaknya berkat seorang pendeta Amerika-Korea yang membantunya mencari suaka di Inggris. Park masih tinggal di Inggris dan bekerja untuk meningkatkan kesadaran dengan harapan untuk mengakhiri perlakuan kejam terhadap wanita yang memasuki perbatasan China.

Kim Ryen-hi
Kim Ryen-hi adalah tipe pembelot Korea Utara yang langka – karena masih dia berharap untuk bisa kembali ke negara asalnya. Pada tahun 2011 Kim berkunjung ke China untuk bertemu kerabatnya yang menyebabkan Kim kelihangan semua yang dia miliki dan terjebak di China Selatan tanpa harapan untuk kembali ke asalnya.

Kim Ryen-hi hidup bersama suaminya di Pyongyang dengan kehidupan yang sangat nyaman (untuk standar Korea Utara) saat dia melakukan perjalanan ke China. Kim menyatakan bahwa perjalanan ke China adalah untuk mendapatkan perawatan penyakit liver yang dideritanya dan ketika bertemu dengan seorang broker yang berjanji untuk menyelundupkan dia ke Korea Selatan di mana dia bisa menghasilkan banyak uang. Melihat kesempatan itu sebagai cara untuk membayar tagihan medisnya, Kim menerima tawaran itu, akan tetapi langkahnya terhenti karena paspor miliknya ditahan pihak imigrasi . Perjalanan nya ke China Selatan menjadi hentian yang terakhir karena takut dideportasi.

Meskipun permohonannya untuk kembali dan pengakuan tidak bersalah serta ungkapan cintanya yang tidak ada tolak banding untuk negaranya, pemerintah Korea Utara tetap menganggapnya sebagai pengkhianat negara, seperti pembelot lainnya. (hukuman untuk pembelot negara adalah hukuman mati)

Son Jung-hun
Bagi ribuan pembelot, pelarian mereka dari kediktatoran kejam demi kehidupan liberal, melintasi perbatasan bisa menjadi pengalaman yang sangat pahit, karena orang yang mereka cintai sering ditinggalkan. Bagaimanapun ada beberapa pembelot yang menggangap bahwa kerabat yang hilang hanyalah salah satu dari banyak kesulitan yang dihadapi saat melarikan diri ke Korea Selatan.

Hutang, diskriminasi dan jatah makanan yang sedikit merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan baru Son Jung-hun di Korea Selatan, di mana pengangguran di kalangan pembelot lebih dari tiga kali lipat rata-rata nasional dan setengah dari jumlah total pembelot mengalami depresi. Meskipun Son Jung-hun masih membenci negara asalnya, dia berencana untuk memprotes pemerintah Korea Selatan karena perlakuan mereka terhadap pembelot dari Korea Utara. Meskipun klaim Korea Selatan untuk membantu pembelot mendapatkan kehidupan yang lebih layak, pemerintanan Korea Selatan hanya bisa melakukan sedikit peningkatan dalam kehidupan para pembelot.

Kisah kisah ini adalah sebagian dari kisah yang mengharukan oleh beberapa orang yang berhasil melarikan diri dan sampai hari ini masih ada saja warganegara Korea Utara yang mengambil risiko untuk membebaskan diri mereka dari carut marutnya kehidupan disana. Kehidupan yang segala sesuatunya diantur pemerintah yang kejam ini menjadikan Korea Utara sebagai satu negara komunis yang selalu di pantau.

Korea Utara sering mengintidimasi negara tetangganya dengan mempamirkan kekuatan militernya melalui tes rudal yang sering diselenggarakan. Bagaimanapun Korea Utara mengatakan bahwa tes rudal tersebut merupakan sebagai tanggapan atas bahaya nuklir dan ancaman yang ditimbulkan oleh Amerika Serikat dan para pengikutnya.(max/din/HNB-1)