HotNewsBatam.com, Batam: Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea dan Cukai tipe B Batam mengamankan kerugian negara dari cukai rokok dan Minuman Mengandung Ethyl Alkohol (MMEA) senilai Rp960 juta dalam operasi patuh Ampadan I yang digelar di seluruh Indonesia.

Kabid BKLI KPU Bea dan Cukai Tipe B Batam R.Evy Suhartantyo mengatakan keberhasilan operasi patuh Ampadan I merupakan kerja keras tim KPU BC Tipe B Batam dalam sebulan terakhir, dengan tetap melibatkan masyarakat sebagai mitra.

“Jadi ada sekitar 1.589.628 batang rokok ilegal dan 978.645 liter Minuman Mengandung Ethyl Alkohol (MMEA) yang bernilai sebesar Rp 960 juta yang berhasil dalam operasi kali ini. Tentunya akan menjadi tantangan baru bagi kami nantinya dalam operasi selanjutnya,” kata dia, Rabu (21/6).

Tangkapan yang menyebar dari seluruh kawasan yang ada di Batam tersebutmerupakan operasi yang berkesinambungan yang dilakukan Bea dan Cukai Tipe B Batam dari 15 Mei hingga 10 Juni 2017.

R Evy Suhartantyo mengatakan sasaran Operasi Patuh Ampadan I, adalah:
Hasil Tembakau yang tidak sesuai dengan ketentuan antara lain:
a. tidak memiliki kuota pembebasan cukai dari BP,
b. HT untuk ekspor,
c. memiliki kuota tetapi tidak dilaporkan dengan CKFTZ,
d. kemasannya tidak mencantumkan khusus kawasan bebas batam,
e. dilekati pita cukai palsu atau salah personalisasi,
f. TPE MMEA tidak memiliki NPPBKC,
g. MMEA yang tidak mendapat kuota dari BP Batam

“Diharapkan dari hasil Operasi Patuh Ampadan I maka target penerimaan cukai yg dibebankan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai akan tercapai sbg salah satu sumber penerimaan negara utk pembangunan nasional dan masyarakat akan terbebas dari barang2 yg ilegal, dan itu tujuan kami dan harus mau tidak mau kami laksanakan,” paparnya.

Ditempat terpisah, Kepala KPU Bea dan Cukai Tipe B Batam, Nugroho Wahyu Widodo mengatakan yang dilakukan tim dari BC Batam merupakan operasi yang terkoordinir sehingga memudahkan berbagai pihak melakukan penindakan.

“Operasi ini untuk mengoptimalkan penerimaan hasil cukai tembakau dan sekaligus menekan peredaran rokok ilegal di Batam, mereka yang kita tindak pun mengerti mereka salah. Sehingga memudahkan kami dalam menjalankan tugas,” katanya.
Menurut dia, rokok yang disita tersebut didatangkan dari pulau Jawa dan di ekspor ke Singapura kemudian dikirimkan ke Batam melalui pelabuhan tikus.

“Kebanyakan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dan merk-nya dimirip-miripkan dengan rokok yang laris di pasaran tapi rasanya jelas beda,” tambahnya.

Sebelumnya kata Nugroho, sudah banyak pabrikan rokok besar yang sudah protes dengan banyaknya pengusaha ilegal. Ini tentu saja merugikan negara. Karena pabrik resmi membayar pajak.

“Beberapa perusahaan besar rokok juga sudah ada yang komplein dan penghasilan mereka menurun akibat digerogoti oleh pengusaha rokok yang ilegal,” tegasnya. (max/din/HNB-1)