HotNewsBatam.com, Batam : PENGUSAHA DAN PELAKU BISNIS di Batam menilai investasi di Batam tidak lagi menarik, hal ini dapat dilihat dari peningkatan investasi yang hanya 4,6% hingga pertengahan tahun ini.

“Dibandingkan Gorontalo kita hanya peringkat 5 saja. Padahal, Gorontalo tidak memiliki kawasan perdagangan bebas. Untuk apa menjadi kawasan perdagangan bebas kalau investasi menurun,” kata tim ekonomi Einstein Effect (E2) –sebuah komunitas nir laba di Kota Batam—Mohammad Gita Indrawan, Selasa (21/6).

Menurut dia, letak Kepualauan Riau terutama Batam dengan Singapura dan Malaysia bukan menguntungkan, bahkan sebaliknya merugikan. Bahkan Batam dijadikan tempat buang barang-barang bekas dari Singapura seperti ban bekas, kendaraan bekas dan serba bekas termasuk peralatan rumah tangga.

“Jadi apa manfaat kedekatan Batam dengan Singapura. Sama sekali tidak ada. FTZ dan pergantian pimpinan di BP Batam, tidak ada pengaruh sama sekali, yang terjadi keresahan investor asing,” paparnya.

Hal senada juga dikatakan ekonom lainnya Zulkifli di komunitas E2 di Batam. Dia menjelaskan Batam sudah tidak layak dikatakan sebagai destinasi investasi, karena puluhan investor sudah hengkang, dan hal itu ditutup-tutupi.

“PHK di Batam dimana-mana. Fungsi BP Batam juga tidak ada pengaruhnya. Kebijakan Pemkot dan BP Batam berjalan sendiri-sendiri, masyarakat Batam menjadi taruhannya,” kata dia.

Dia menuturkan, Batam dibangun sebagai daerah Industri pangsa pasar bukan SIngapura, tapi Negara-negara lain. Oleh sebab itu, mantan presiden Habibie menarik investor dari Jepang dan membuka perwakilan Otorita Batam di Jepang, gunanya agar Batam menjadi produsen barang-barang elektronik. Akan tetapi, perkembangannya Batam menjadi daerah yang menjadi penonton saja.

Sebab, yang diuntungkan adalah Singapura karena dijadikan Head Quarters oleh perusahaan yang berniat berinvestasi di Batam atau daerah lain termasuk di Bintan dan Karimun.

Akibatnya Batam menjadi seolah-olah punya orang SIngapura, ditambah pihak Indonesia ( Pemko Batam dan BP Batam) digembar-gemborkan tidak akur. Momen ini menjadi dasar pihak Singapura membenamkan Batam sebagai daerah industry di kawasan ini.

Pertumbuhan ekonomi sejak triwulan pertama, kedua, ketiga, dan ke empat, dan triwulan pertama tahun 2016 terus menurun. Tahun 2016 triwulan pertama pertumbuhan ekonomi di Kepri dari 7,8% di Tahun 2013 dan Tahun 2014, tahun 2014 hany 4,6%.

Hasil penelusuran komunitas E2 Kota Batam. Mendapati Malaysia dengan kawasan Industri Iskandar yang dulu belajar dari Batam kini pesat pertumbuhan ekonominya.

Otorita Batam kini menjadi BP-Batam jauh lebih tua dibanding Kawasan Industri Iskandar Malaysia, dalam hal menggandeng investor, Malaysia lebih unggul. BP Batam yang berdiri sejak 40 tahun silam itu, jauh tertinggal dalam hal menggaet investasi, yang totalnya hanya 14,8 miliar dolar Amerika, sedangkan Kawasan Industri Iskandar di Malaysia total investasinya senilai 36 miliar dolar Amerika.

Survei Bank Dunia terbaru tahun 2012, Batam di ranking ke-15 dalam Easy in Doing Business , yang didalamnya mengandung 12 syarat berinvestasi yang menguntungkan.

Padahal daerah ini disebut kawasan industri yang dikenal dengan Free Trade Zone, sedangkan Gorotalo, Makasar dan Riau, tidak memiliki kawasan free trade zone dan jauh dari Singapura, pertumbuhan ekonominya melejit hingga lebih dari 7%.

Kapala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kepri,Gusti Raizal Eka Putra mengatakan roda perekonomian di Provinsi Kepri mengalami penurunan alias minus ada pertumbuhan selama Triwulan I 2016 Januari sampai Maret 2016.

Pengaruh tarik ulurnya status Pulau Batam serta siapa yang akan menjadi kepala BP Batam yang baru, membuat niat investor takut berinvestasi sehingga pertumbuhan ekonomi di Kepri turun dari 5,20% (year on year) menjadi 4,58%(yoy).

” Status KEK atau FTZ Batam serta siapa ketua BP Batam, mempengaruhi dan akibatkan menurunnya nilai investasi di Batam. Secara angka menurun berkisar 1,43% (yoy). Ditambah lagi, sektor industri manufaktur yang saat masih beroperasi di Batam, turut menahan untuk tidak berproduksi,”katanya. (Max/HNB)